Ini just in my humble opinion ya, setuju boleh, enggak juga boleh, hehehee, ini cuma dalam rangka menuliskan pengalaman-pengalamanku secara berkala seperti yang aku lakukan selama ini… Apa ilmu2 yang aku dapet selama menjadi penjual kue ataupun cake decorator ataupun manajer bisnis sendiri… Tentunya ini ilmunya dari otodidak, makanya kalo bener ya semoga bisa diambil hikmahnya, kalo menurut anda2 ini ilmu ngawur ya cuekin aja lah, wakakkakaa….
Ditujukan untuk teman-teman sesama bakul kue khususnya yang baru memulai, dan yang masih bingung dengan penentuan harga. Sebenernya aku juga masih sering bingung, hahahaha, wadoh ini nggak kompeten nulis tapi maksain nulis, tapi ya gapapa, nanti kita bertukar pikiran sama-sama.
Jadi rumus gampangannya adalah, untuk menentukan harga itu, hitung bahan baku yang dibutuhkan, semua, cost gas air listrik, termasuk cost telepon/sms, biaya pengiriman, biaya belanja dll, standar pokoknya. Kalo kita udah tau, jadi kan tinggal dijual di atas nilai itu, tergantung pengennya untung berapa persen. Rumus ini bisa langsung dipakai kalo kuenya nggak pake hiasan yang neko2, atau kalau hiasannya sudah ada patokannya, misalnya dihias bunga2an 5 biji, 10 biji atau 3 biji.
Nah kalau cake yang dekorasinya berdasarkan wangsit (huahuaha) seperti yang sering saya lakukan, bagaimanakah itu menghitungnya? Yang tidak ada patokan berapa kilo fondant yang dipakai, berapa banyak pewarna yang dipakai, berapa banyak lustre dust yang dipakai dan berapa sisa fondant/kue yang tidak terpakai? Sekali lagi patokannya tidak ada. Yang ada cuma patokan bahwa saya harus menghasilkan cake yang bagus dan enak, itu saja.
Jujur saja, kadang aku juga bingung kok, wakakkaa… Tapi kira-kira begini lho garis besar dalam menentukan harga itu, tapi semuanya ini kembali ke anda masing-masing pengennya bagaimana. Kalo saya sih:
Goal anda dalam membuat dan menjual kue itu apa? Kalo aku, aku pengen membuat kue yang enak dimakan dan juga enak dilihat. Konsekuensinya, bahan-bahan yang digunakan juga yang pilihan, mungkin yang tergolong agak mahal di kelasnya demi menjamin kualitasnya bagus dan terjaga. Bisa saja kok saya menjual kue saya setengah dari harga yang sekarang, tapi tentunya supaya tidak merugi, bahan-bahannya harus disubtitusi kan, dengan yang harganya lebih murah. Bisaaa… Tapi, saya tidak mau. Saya pengennya ya jualan yang enak aja deh, walaupun imbasnya ke harga kue yang mungkin bagi sebagian orang dianggap mahal.
Trus, kalo dianggap mahal, gimana kalo orang nggak mau beli? Dulu, waktu masih awal2 jualan kue, rasanya sediiih banget kalo ada orang nanya2 harga kue trus ditutup dengan kalimat “kok mahal sih mbak, ya udah nggak jadi, budget saya nggak cukup”. Wah bisa nangis tuh aku, lalu setelah itu kebingungan, duh gimana nih, ternyata hargaku kemahalan (padahal yang bilang mahal cuma satu atau beberapa orang aja). Semakin lama aku paham bahwa harga itu relatif. Maksudku nggak usah liat orang itu golongan atas atau menengah atau biasa2 aja, semua bebas kok menilai sebuah harga itu mahal atau tidak untuk diri kita masing-masing. Misalnya, calon customer A bertanya “Kue wedding berapa harganya?” aku jawab “mulai 2 juta mbak, dapetnya ini ini ini, termnya begini”, lalu dijawab lagi “kok mahal sih, ya udah nanti aku hubungi lagi mbak kalo jadi”. Ini wajar. Ada juga calon customer B “kue wedding berapa?”, aku jawab yang sama, lalu dijawab lagi “saya bisa DP kapan?”. Ini juga wajar. Yang penting adalah kita harus sudah secara cermat menghitung sebelum mengutarakan berapa harga produk yang kita jual, jadi kita punya patokan jelas, kenapa saya nggak jual dengan harga di bawah 2 juta, ya karena alasan-alasan perhitungan secara matematika, cost dan resikonya. Kalau kita sudah hitung benar-benar, ya sudah, seperti apapun ditawar kita tetep punya pegangan karena semua sudah diperhitungkan, bagiku itu namanya profesional, hehehe… Jaminannya adalah kita berusaha membuat pesanan pembeli sebaik mungkin, sekuat tenaga, dan maksimal.
Udah itung-itung harga nih, kok tetep aja itungan saya (misalnya) lebih mahal daripada harga jual para penjual kue yang lain sih? Lha ya bisaa dong… Emang kita pake resep yang sama kayak bakul kue yang lain? ya tidak to… Semua punya resep andalan sendiri-sendiri, dari resep itu apa saja bahan yang dibutuhkan, dan merk apa yang dipakai kan nggak sama antara 1 penjual dengan yang lain, walaupun judul jualannnya sama, brownies misalnya. Jadi keragaman harga bisa berasal dari situ juga. Ya kayak yang aku tulis di paragraf atasnya yang ini.
Untuk yang sudah mendalami cake decoration, kalo aku mikirnya udah bukan menghasilkan kue sebanyak-banyaknya, bukan kuantitas yang menjadi prioritas untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin bagi yang berjualan kue kering dsb yang bisa dibuat secara massal, bisa menggunakan sistem seperti ini, untungnya kecil aja yang penting yang terjual banyak, karena bikin kue kering itu bisa dengan lebih mudah diwakilkan ke orang lain misalnya ke pegawai. Tapi kalau cake decorating, orang bisa melihat, semakin lama kita membuat hiasan semakin rapi, semakin bagus, karena skill pembuatnya juga bertambah seiring bertambahnya jam kerjanya. Jujur aja, keahlian dekorasi itu sulit dipindah tangankan. Aku punya asisten, tapi area disain dan dekorasi tetap aku yang in charge. Kalau mau punya asisten yang pinter dekorasi, ya paling tidak harus mengantongi jam kerja yang sama kan, karena memang asisten yang kita gaji pun harus belajar sama seperti kita.
Trus berarti bisnis cake decorating seret dong, karna kuenya nggak bisa banyak, wakakaka, artinya keuntungannya juga tetep segitu2 aja? Hihihihi nggak tau jugaaa, hahahaha… Kalo aku sendiri, aku mereview skillku dari waktu ke waktu. Ketika aku mengganggap diriku sudah naik kelas, ketika kue yang aku dekorasi anggaplah sudah semakin bagus dibandingkan dengan level yang terdahulu, aku berhak atas reward yaitu bisa menaikkan harga kuenya. Jadi menaikkan harga tidak semata-mata tergantung dari harga bahan-bahan yang naik aja, tapi juga level keahlian kita (kayak main game ajaaa, hahahaha). Emang boleh naikin harga padahal bakul-bakul kue yang lain nggak naikin harga? Ya boleh-boleh aja kalo kata aku, hahaha… You’re the boss.
Yang penting, tidak usah menilai orang lain yang menurut kita jualannya terlalu murah atau terlalu mahal, pasti semua punya perhitungan dan rahasia dapur masing-masing yang kita tidak tau. Kembali lagi bahwa rejeki ada yang memberi, semua akan kebagian, kita tetep jalan lurus-lurus aja, insyaAllah sukses yaaaa…
Recent Comments