Pepatah yang sangat terkenal adalah, “Pembeli adalah Raja” – iya betul kok itu. Apa yang saya jual? saya menjual kue, tidak hanya kue tapi juga service, apalagi saya jualan online, tidak ada toko representatif, yang pembeli tidak tahu dimana saya berada, pemesanan hanya lewat tulisan email saja, dan pembayaran hanya berupa angka-angka di layar internet banking saya. Bagaimana jualan seperti ini bisa bertahan? Kuncinya adalah memegang komitmen dengan sungguh-sungguh.
Apa kue yang diinginkan pembeli, bagaimana hiasannya, apa yang boleh dan tidak boleh ada di kue tsb, serta yang paling penting WAKTU, jam berapa kue harus sampai di tempat.
Beberapa hari yang lalu, karena ada missunderstanding dengan kurir yang harusnya sampai di rumah pagi, ternyata masih jauh, baru mau berangkat, sedangkan kue ditunggu untuk acara ulangtahun jam 12 siang di Jakarta, saya terpaksa harus pesan taksi, berangkat dengan anak2 yang belum makan siang (jam 11 siang), Kintan baru pulang sekolah, dan Kinar baru bangun tidur, saya bawa anak2 nganter kue. Kuenya bagus (kata saya, hihihihi), semua keinginan customer saya bikinkan semua, tapi kalau kue datangnya setelah acara bubar, buat apa? Untungnya masih ada waktu 1 jam sebelum acara dimulai, jadi saya dan kurir janjian di tengah-tengah, karna masuk Jakarta dengan taksi juga nggak mungkin, malah lebih lama lagi, saya ketemu dengan kurirnya di Lenteng Agung, serah terima kue, lalu pulang lagi (thanks pak Zai, walaupun ada masalah tapi selalu ada solusinya
Pernah, kue saya datang saat acara sudah selesai 5 menit sebelumnya. Waktu itu saya sedang di luar rumah (pagi2 kue sudah selesai, lalu survey sekolah SD untuk Kintan), kue ada di rumah, kurir nggak ngabarin kalo akan terlambat pickup, ketika saya tau kurirnya belum pick up, nggak memungkinkan kalau ngejar pulang lalu berangkat nganter kue, tetep akan terlambat, . Tuan rumah yang punya acara sampai mundurin waktu acaranya, tapi tetep nggak keburu, dan kejadian, kue datang waktu pestanya sudah selesai. Kue yang saya buat sepenuh hati, tapi karena datangnya terlambat, nggak berguna apa2, malah nambah sedih pemesannya. Dengan maksud yang baik, saya menawarkan untuk mengembalikan uang yang sudah ditransfer pembeli, yang terjadi, pembeli yang tadinya sudah memafkan saya, lebih marah lagi melebihi sebelumnya
Walaupun hanya berupa tulisan di email, tapi cukup membekas untuk saya, menangis lah saya dipeluk papa, telpon kurir, mau marah juga nggak ada gunanya, akhirnya kurir dan sekaligus owner armada kurir tsb akan visit ke ibu yang memesan tadi untuk meminta maaf, dan karena saya tidak bisa keluar rumah (waktu itu Kinar masih umur beberapa bulan), saya menitipkan kado ulangtahun.
Kurir yang mau visit, nggak jadi karena ibu tsb mungkin sibuk, jadi kado dari saya (yang saya belinya di toko online karena nggak bisa keluar rumah) diantar oleh kurir. Ibunya masih di kantor waktu itu, siang2. Saya SMS dengan hati-hatiiii sekali menyusun kata-kata, bahwa kejadian keterlambatan kemarin sangat saya sesali, begitu pula dengan pihak kurir. Ibu tsb memaafkan, walaupun kecewanya tidak bisa dihapus, iya saya mengerti.
Jam 4 pagi ketika mau memulai bikin kue lagi, ada SMS dari ibu tadi, isinya beliau sangat tersinggung karena kadonya menurut beliau dibungkus kurang rapi, dan kado itu dianggap sebagai penghinaan (isinya tas anak2). Jam 4 pagi juga saya bangunkan papa, menagis saya tersedu-sedu, saya menganggap diri saya sudah maksimal, tapi karena batasan jarak dan waktu yang akhirnya komunikasi hanya dilakukan lewat tulisan, disalah artikan. Saya balas SMSnya dengan tetesan airmata, dan perasaan sedih sekali, bahwa demi Allah niat saya baik, kalaupun ada salah paham, saya hanya pasrah. Kado itupun, saya tidak lihat bungkusnya seperti apa karena pesan lewat internet, dan menurut kurir yang mengantar keadaannya baik. Sudah titik, saya ambil pelajaran dan hikmahnya, untuk diri saya, dan sekarang untuk teman-teman yang juga punya usaha bakulan kue kayak saya, dengan menulis di blog ini, kejadiannya lama, sudah tahun lalu, cukup lama menyembuhkan luka sampai saya bisa menuliskan di sini. Ibu tersebut, sepertinya sudah memutuskan untuk memutus tali silaturahmi, saya diremove dari FB nya.
Kalaupun ibu tersebut membaca, saya tidak menyalahkan siapa2 karena pada mulanya memang kesalahan mulai dari pengiriman, yaitu dari sisi saya, ibu marah saya berusaha untuk mengerti, mungkin saya juga yang salah karena hanya waktu yang bisa menyembuhkan kekecewaan ibu pada saya. Saya sudah berusaha.
Pelajaran dari pengalaman yang ini, jangan menyepelekan soal WAKTU PENGIRIMAN, ketika kita sudah selesai membuat kue, kuenya bagus, lucu, tugas belum selesai, tugas kita adalah memastikan kue sampai dengan baik dan tepat pada waktunya. Dan untuk customer yang kecewa, jangan serta merta menawarkan untuk mengembalikan uangnya, kita harus telaah dulu bagaimana tipe customer ini, bisa jadi beliau akan lebih tersinggung, karena uang bukan masalah (seandainya uang adalah masalah, nggak akan jauh2 hari booking kita, dan cake custom yang harganya jelas di atas bakery), yang masalah ada service yang kita berikan tidak cukup memuaskan, dan service itu tidak ternilai dengan uang.
Jadi ketika kue sampai misalnya dalam keadaan rusak, sebisa mungkin perbaiki, kalau gampang diperbaiki, misalnya bisa dilem pake air, minta tolong customernya, kalau kerusakannya major, apa boleh buat, bawa kuenya pulang lagi, kita perbaiki, lalu kita antar lagi. Minta maaf saja tidak cukup, harus ada tindakan yang nyata sebagai bukti komitmen kita.
Kalau agak susah memahami, cobalah sekali-kali jadi customer dan beli sesuatu di toko online lain, nggak harus kue, apa aja, saya sering coba kok, dan jadi tau, eh ternyata saya beli online karna nggak mau yang ribet2, tinggal pesen, transfer, barang dikirim, atau transfernya belakangan, hiehiehiehie, ini sih sama yang udah kenal2 aja, kalo nggak kenal nggak berani
Suka duka memang kata-kata yang harus digandengkan, kalo suka aja, bisa membuat kita lupa diri, kadan-kadang pengalaman yang ada dukanya yang malah memberi kita pelajaran. Kalau ada kejadian yang tidak mengenakkan, silahkan aja sedih, ya manusiawi kok, tapi jangan putus asa, diambil hikmahnya untuk lebih baik di pesanan-pesanan lain yang akan datang. Kalau kondisi kita masih terbatas (peralatan terbatas, waktu terbatas), jangan fokus pada kekurangan, fokus pada kelebihan kita, supaya kita bisa maju…. Kalau ada suara sumbang, yah cuekin aja, nggak usah terlalu mikirin komentar2 sumbang yang akan mematahkan semangat kita, Selamat bakulan ya!
Special thanks to my cheerleader, hihihihi, muach muachhh! dan teman-teman yang selalu mensupport, atau nemenin makan bakso, qeqeqeq….
This slideshow requires JavaScript.