Home > Di balik layar > About Price in Cake Decorating, et cetera…

About Price in Cake Decorating, et cetera…

Ini just in my humble opinion ya, setuju boleh, enggak juga boleh, hehehee, ini cuma dalam rangka menuliskan pengalaman-pengalamanku secara berkala seperti yang aku lakukan selama ini… Apa ilmu2 yang aku dapet selama menjadi penjual kue ataupun cake decorator ataupun manajer bisnis sendiri… Tentunya ini ilmunya dari otodidak, makanya kalo bener ya semoga bisa diambil hikmahnya, kalo menurut anda2 ini ilmu ngawur ya cuekin aja lah, wakakkakaa….

Ditujukan untuk teman-teman sesama bakul kue khususnya yang baru memulai, dan yang masih bingung dengan penentuan harga. Sebenernya aku juga masih sering bingung, hahahaha, wadoh ini nggak kompeten nulis tapi maksain nulis, tapi ya gapapa, nanti kita bertukar pikiran sama-sama.

Jadi rumus gampangannya adalah, untuk menentukan harga itu, hitung bahan baku yang dibutuhkan, semua, cost gas air listrik, termasuk cost telepon/sms, biaya pengiriman, biaya belanja dll, standar pokoknya. Kalo kita udah tau, jadi kan tinggal dijual di atas nilai itu, tergantung pengennya untung berapa persen. Rumus ini bisa langsung dipakai kalo kuenya nggak pake hiasan yang neko2, atau kalau hiasannya sudah ada patokannya, misalnya dihias bunga2an 5 biji, 10 biji atau 3 biji.

Nah kalau cake yang dekorasinya berdasarkan wangsit (huahuaha) seperti yang sering saya lakukan, bagaimanakah itu menghitungnya? Yang tidak ada patokan berapa kilo fondant yang dipakai, berapa banyak pewarna yang dipakai, berapa banyak lustre dust yang dipakai dan berapa sisa fondant/kue yang tidak terpakai? Sekali lagi patokannya tidak ada. Yang ada cuma patokan bahwa saya harus menghasilkan cake yang bagus dan enak, itu saja.

Jujur saja, kadang aku juga bingung kok, wakakkaa… Tapi kira-kira begini lho garis besar dalam menentukan harga itu, tapi semuanya ini kembali ke anda masing-masing pengennya bagaimana. Kalo saya sih:

Goal anda dalam membuat dan menjual kue itu apa? Kalo aku, aku pengen membuat kue yang enak dimakan dan juga enak dilihat. Konsekuensinya, bahan-bahan yang digunakan juga yang pilihan, mungkin yang tergolong agak mahal di kelasnya demi menjamin kualitasnya bagus dan terjaga. Bisa saja kok saya menjual kue saya setengah dari harga yang sekarang, tapi tentunya supaya tidak merugi, bahan-bahannya harus disubtitusi kan, dengan yang harganya lebih murah. Bisaaa… Tapi, saya tidak mau. Saya pengennya ya jualan yang enak aja deh, walaupun imbasnya ke harga kue yang mungkin bagi sebagian orang dianggap mahal.

Trus, kalo dianggap mahal, gimana kalo orang nggak mau beli? Dulu, waktu masih awal2 jualan kue, rasanya sediiih banget kalo ada orang nanya2 harga kue trus ditutup dengan kalimat “kok mahal sih mbak, ya udah nggak jadi, budget saya nggak cukup”. Wah bisa nangis tuh aku, lalu setelah itu kebingungan, duh gimana nih, ternyata hargaku kemahalan (padahal yang bilang mahal cuma satu atau beberapa orang aja). Semakin lama aku paham bahwa harga itu relatif. Maksudku nggak usah liat orang itu golongan atas atau menengah atau biasa2 aja, semua bebas kok menilai sebuah harga itu mahal atau tidak untuk diri kita masing-masing. Misalnya, calon customer A bertanya “Kue wedding berapa harganya?” aku jawab “mulai 2 juta mbak, dapetnya ini ini ini, termnya begini”, lalu dijawab lagi “kok mahal sih, ya udah nanti aku hubungi lagi mbak kalo jadi”. Ini wajar. Ada juga calon customer B “kue wedding berapa?”, aku jawab yang sama, lalu dijawab lagi “saya bisa DP kapan?”. Ini juga wajar. Yang penting adalah kita harus sudah secara cermat menghitung sebelum mengutarakan berapa harga produk yang kita jual, jadi kita punya patokan jelas, kenapa saya nggak jual dengan harga di bawah 2 juta, ya karena alasan-alasan perhitungan secara matematika, cost dan resikonya. Kalau kita sudah hitung benar-benar, ya sudah, seperti apapun ditawar kita tetep punya pegangan karena semua sudah diperhitungkan, bagiku itu namanya profesional, hehehe… Jaminannya adalah kita berusaha membuat pesanan pembeli sebaik mungkin, sekuat tenaga, dan maksimal.

Udah itung-itung harga nih, kok tetep aja itungan saya (misalnya) lebih mahal daripada harga jual para penjual kue yang lain sih? Lha ya bisaa dong… Emang kita pake resep yang sama kayak bakul kue yang lain? ya tidak to… Semua punya resep andalan sendiri-sendiri, dari resep itu apa saja bahan yang dibutuhkan, dan merk apa yang dipakai kan nggak sama antara 1 penjual dengan yang lain, walaupun judul jualannnya sama, brownies misalnya. Jadi keragaman harga bisa berasal dari situ juga. Ya kayak yang aku tulis di paragraf atasnya yang ini.

Untuk yang sudah mendalami cake decoration, kalo aku mikirnya udah bukan menghasilkan kue sebanyak-banyaknya, bukan kuantitas yang menjadi prioritas untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin bagi yang berjualan kue kering dsb yang bisa dibuat secara massal, bisa menggunakan sistem seperti ini, untungnya kecil aja yang penting yang terjual banyak, karena bikin kue kering itu bisa dengan lebih mudah diwakilkan ke orang lain misalnya ke pegawai. Tapi kalau cake decorating, orang bisa melihat, semakin lama kita membuat hiasan semakin rapi, semakin bagus, karena skill pembuatnya juga bertambah seiring bertambahnya jam kerjanya. Jujur aja, keahlian dekorasi itu sulit dipindah tangankan. Aku punya asisten, tapi area disain  dan dekorasi tetap aku yang in charge. Kalau mau punya asisten yang pinter dekorasi, ya paling tidak harus mengantongi jam kerja yang sama kan, karena memang asisten yang kita gaji pun harus belajar sama seperti kita.

Trus berarti bisnis cake decorating seret dong, karna kuenya nggak bisa banyak, wakakaka, artinya keuntungannya juga tetep segitu2 aja? Hihihihi nggak tau jugaaa, hahahaha… Kalo aku sendiri, aku mereview skillku dari waktu ke waktu. Ketika aku mengganggap diriku sudah naik kelas, ketika kue yang aku dekorasi anggaplah sudah semakin bagus dibandingkan dengan level yang terdahulu, aku berhak atas reward yaitu bisa menaikkan harga kuenya. Jadi menaikkan harga tidak semata-mata tergantung dari harga bahan-bahan yang naik aja, tapi juga level keahlian kita (kayak main game ajaaa, hahahaha). Emang boleh naikin harga padahal bakul-bakul kue yang lain nggak naikin harga? Ya boleh-boleh aja kalo kata aku, hahaha… You’re the boss.

Yang penting, tidak usah menilai orang lain yang menurut kita jualannya terlalu murah atau terlalu mahal, pasti semua punya perhitungan dan rahasia dapur masing-masing yang kita tidak tau. Kembali lagi bahwa rejeki ada yang memberi, semua akan kebagian, kita tetep jalan lurus-lurus aja, insyaAllah sukses yaaaa…🙂

Categories: Di balik layar
  1. July 29, 2009 at 4:44 am

    setuju, tiap orang uda ada rejekinya masing2… kue saya enak (yes, saya PD), saya pakai bahan berkualitas dan bisa saya jual dengan harga yang cukup bersahabat buat kantong tiap orang… kenapa? karena tujuan saya bikin kue buat rekreasi… pelepasan stress, penat dsb… hehehe so? balik lagi ke tujuan… untuk menyambung hidup, hobby, atau lainnya…? peace yo…

  2. mamajo
    July 29, 2009 at 4:54 am

    setuju…masalah pricing itu masalah relatif…tergantung perhitungan matematis dan perhitungan hati. kalo saya, pokoknya nutup bahan, untung menurut saya sesuai saya jual, kalo gak ya udah, gak mau turunin harga. sama satu lagi, saya gak akan pernah jual kue yang saya gak mau makan atau menurut saya gak enak….biarin aja kalo jadi mahal karena selera kue saya ketinggian, hahahha TFS ya maki

  3. July 29, 2009 at 5:04 am

    kalo saya sih ya jujur aja ya iya emang buat nyambung hidup, lha wong gak gajian dari kantor dan bukan anaknya konglomerat… jadi harus menjual kue dengan rasional supaya effort sebanding dengan hasil yang didapat… ya itu kalo saya siih, hehehehehe…

    wah mamajo, penjual galak, hahahahhaa… kirim es krim dong😀

  4. July 29, 2009 at 6:11 am

    mak mak, setuju bangedzzz deh sama postinganmu kali ini…
    tapi sebagai bakul kueh yang merangkap pembuat kue kering juga, daku juga mo komplen ney (bole duonk hehehe…😛 )
    ga semwa kuker itu mass product yang bisa disuruh ke pegawai begitu aja…(kalo menurut aku) – karna butuh juga personal touch loh… untuk persiapan awal sampai akhir packaging tetep aku loh (hya iyalah, lha wong aku ga ada pembokat di rumah hihihi…)

    aku kutip kata guru kursusku yach : “setiap orang bisa bikin kue kering asal ada resepnya, tapi teknik pembuatan, itu yang membedakan kue enak dan yang biasa aja”,
    apalagi kalo kita bikin kue dengan perasaan sepenuh hati dijamin kuenya bakal lebih cuihuyy buat customer (just like all of your cakes itu loh maki…akyu yang belum perna beli aja (belum beli kok bangga hehe…) aku merasa cihuyy liatnya (apa seh cake cihuyy itu…gw juga bingung deskripsiinnya xixixixi…))🙂

    aku jual kuker pake wysman dan untuk sebagian besar kue aku selalu pake tambahan keju edam, aku jual cuma 50000 setoples ukuran toples lebaran yang 500g itu loh (kecuali kaastengels 85000) n toplesnya kukasih pita biar maniezz kayak akyu (hihi narsis.com).
    dan harga segitu masih ada fee 10% untuk yang jadi reseller aku. (berminat? hubungi daku – hahaha iklan mode on… :P)

    dan masih ada beberapa orang yang bilang mahal n DITAWAR pula!!! pheww bingung deh gw karna sebenernya yang bilang itu capable banget buat beli (baca : tajirr)… tapi surprising nya, ada yang orang yang biasa2 aja, tapi emang ngerti rasa kue langsung bilang ‘ok aku pesen kuker yang ini n yang itu’ – jadi emang bener kata maki, gabisa liat golongan kalo seperti itu…

    “menjual kue dengan rasional supaya effort sebanding dengan hasil yang didapat” SETUJU BUANGEDZ…

    tadinya aku tuh orangnyah rada baik hati banged geto (huekk…) kalo ditawar berapa, sok hayuh ajjah…tapi berkat INFLUENCE dari SUAMIKU yang sangat PERHITUNGAN mengenai hak dan kewajiban yang seperti itu (maksudnya kewajiban untuk kasih barang (kue) yang enak rasanya dan enak dilihat, berarti punya hak untuk mendapatkan yang sesuai dengan effort yang uda dilakuin – baca : berhak untuk minta harga mahal pada customer) – susah emang orang bank, kalo itung2an paling bissaa aja..😉

    thx a lotzz ya, mak… ciao you

  5. yunita
    July 29, 2009 at 9:33 am

    hehehe…betul banget…
    kalo aku, masih main di bahan…
    apalagi kalo yg mesen temen2 kantor….aku kasih tau harga standar kueku segini
    tapi mereka minta yg ekonomis, aku kasih tau kalo aku pake bahan2 dibawah standarku…
    kalo mrk oke, hayo aja….:P
    padahal aku bawa tester ke kantor yg bahannya mantap :))

  6. ina
    July 29, 2009 at 10:09 am

    stojoh maki…
    TFS…penyemangat banget…🙂

  7. July 29, 2009 at 10:32 am

    bentar nih mau jawab mimi Allegra yang komplain, hahahaha…. tantee, siapa sih yang bilang kalo bikin kuker itu gampang didelegasikan ke asisten, liat nih aku, ga berani jualan kuker saking ngeri ribetnya, wakakakka… the point is, mengajari pegawai membuat kuker itu -mungkin- lebih gampang daripada ngajarin mendesain dan mendekor kue, karena prosedur2 bikin kue kering bisa dibikin SOP secara berurutan, -dimana kalo soal disain cake nggak ada prosedurnya alias ruwet aja yang penting nyampe finish (atau aku aja yang begini, wakakaka)-. Ya tidaklah kalo aku menggampangkan proses membuat dan berjualan kue kering, hahahaha, maaf yaa kalo ada yang kurang oke di hati, ga bermaksud, mungkin aku yang kurang bisa menyampaikan maksudku dengan benar… ^_^

  8. July 29, 2009 at 2:01 pm

    setuju Mak. Emang nentuin harga itu relatif banget. Sedikit curhat juga , baru hari ini aq ditanya harga cupcakeku dijual berapa. Pas aq sebutin , langsung komentnya lho kog sama dgn harga toko kue yg dah terkenal? Dlm hati cuman bisa bilang gini : emang kalo belon punya toko kue terkenal gak boleh jual harga sama dgn mereka?? Secara kalo kita pake bahan tentu aja yg pilihan punya. weee… *tapi beraninya cuman dlm hati..xixixixi*
    Awalnya aq juga suka gak tega ngasih harga , pernah terima orderan bikin cupcake ultah 40 biji ,figurin orang semua , aq jual harga 300 ribu. gak sampe 10 ribu per bijinya. Ngerjainnya dari malam sampe pagi karna bikin detail rambut dll , sampe my hubby bilang gini : kalo kamu gak bisa menghargai hasil buatanmu sendiri bagaimana orang lain bisa?
    Mulai dari situ , aq tega-tegain ngasih harga yg menurut aq sesuai dgn kerjanya. Kalo simple yg segini. Kalo yg rumit ya segini. Emang gak bisa saklek2 amat sich , tapi yg penting aq ngerasa sepadanlah dgn yg sudah aq lakukan.
    Thanks buat tulisannya yg memberi semangat.

  9. nop
    July 29, 2009 at 2:32 pm

    ***..liat ke koment mba’ Lia yg atas..***
    300rb 40biji utk figurin.. astagaaa baik bener!

    akur deh sama Maki & semua2 ibu2 tkg kuweh
    kl diri sendiri ga menghargai, gimana org lain..
    pede ajah, yg penting rasional..

    emang nya kaya saya.. hihiii..
    sampe kapan jg ga pengen bikin kuweh apalagi jualan, soalnyah yakin kaga bakalan enak.. huahahahaaa..
    saya sdh cukup senang memandang2 kuweh cantik sambil skali2 icip2..

  10. July 29, 2009 at 3:56 pm

    hihihi peace maki…hahaha…🙂

    aduh maki jangan tersinggung yah, aku juga ngerti ko maksud maki, pastinya untuk decorate kueh emang pastinya lebih riweuh dan, uda pasti setiap orang pemikiran n idenya ga sama – jangan khawatir, daku setuju itu…aku juga bakal bingung kalo mesti bikin kueh2 dengan ide dekorasi yang ada di kepala aku tapi aku mau orang lain yang ngerjain sesuai dengan isi kepalaku itu – wah dijamin njelasinnya syussahhhh…
    kaya kue maki, yakin deh ga mungkin orang lain bisa tiba2 punya ide yang persisss kaya gitu..
    ide yang mirip mungkin bisa, atau yang mungkin meniru desain memang bisa, tapi proses sampe dapet feel untuk tema kue2mu itu ga akan bisa digantiin, karna perjalanan prosesnya cuma maki yang ngalamin kan…

    btw maaf ya, ibok, kalo mungkin maksudku juga tertangkap agak gemana geto, ga bermaksod komplen-komplen banged kok (hehehe pisss lageee….😛 ) maap yah kalo dirasa menyinggung…

    buat mba lia, iya bener ni comment dari nop, harga cup cakesnya baik benerr…
    tapi uda dinaikin harganya, kan mba… supaya sesuai dengan effort-nya (kayak yang uda dibilang oleh ibok yulia di atas…)

    gudluck yah, buat semwa bakul kueh dan penikmat bakul kueh (karna tanpa penikmat bakul kueh, maka kita para bakul kueh ga akan bisa exist looo… cieee bahasanya…xixixixi…😉 )

  11. July 29, 2009 at 4:08 pm

    maki maap yah comment akyu panjang-panjang…
    kenangan mengarang bebas pas SD emang sulit dilupain hehehe…

  12. July 29, 2009 at 4:18 pm

    mak, mak, maap ni sekaliiii lagi post comment yah…
    aku bole dijitak deh abis ini😉
    ato kalo mw dikasih cup cakes juga aku trima wakakaka…

    cuma mau comment untuk mba yunita..temen aku juga ada yang minta harga ekonomis dia suruh aku substitute bahan lebih murah…namun aku tolak secara halus dengan bilang aku bingung nanti misahinnya pesenannya (baca : keder geto) n most of all, ongkos capenya sama aja kan, jadi paling aku cuma bisa kasih harga lebih murah ga nyampe lima ribu perak (ga berapa ngaruh kalo menurutku)…

    kadang kita suka lupa sama ongkos tenaga karna kita pikir dikerjain sendiri, ga bayar orang – nah, thanks to maki yang udah ingetin kita untuk belajar menghargai effort kita sendiri pas bikin kueh… guluck ya, mba..

  13. nop
    July 29, 2009 at 5:38 pm

    mba.. koment-nya 1 lg ajah..
    nanti dapat payung cantik sama kaos gambar Kintan dari Maki..
    gyahahahaaa..

    sukses deh buat semuwa muwa tukang kuweh online yah..

  14. July 29, 2009 at 10:55 pm

    @nop en mimin : itu mah bukan baek beneer tapi “oneeeng beeneer” disuruh ngulang lagi…oooh tidaaaaakkk . Tapi bener kata pepatah , pengalaman adalah guru yg baek. Kalo tidak begitu kan bagaimana bisa belajar menghargai karya sendiri dan orang lain. Bukan begitu..? hiaaa…malah sok menggurui xixixixi..

  15. July 30, 2009 at 1:23 am

    yup betul banget.. setubuhh sm maki.. eh setujuh!
    sering banget menghadapai kejadian spt ini, aku dibilang jualan kue melebihi bakery yg terkenal, kmdn sampe diargumen kan ga bayar pajak dst.. apa lg yg bkn aku nangis, ko itung2an banget to mbak? nambah kembang mbayar, nambah dus mbayar, ..
    dooh.. rasane gimana gitu.. apalagi nek mule dibanding2ke dg yg lain..
    disini setuju dgn Maki, aku sebagai object yg dibandingkan ya aku kembalikan ke cln customer, tdk akan aku paksa.. silahkan..
    dulu di maki jg pernah bahas bab ‘Pricing’,
    pembeli itu ada yg nawar dulu, ada yg kmdn langsung oke.. ada yg langsung kabur jg ada😀
    bener ko.. lari satu calon pelanggan, ternyata datang pelanggan yang lain.. insyaallah.. beneran ko.. yg penting kita cr rejeki sing ndalan yo.. sing lurus2 ae..
    tfs Maki..

  16. Diah
    July 30, 2009 at 1:24 am

    postingan yang menjadi ajang diskusi bakul kue…memang perlu lho postingan semacam ini, kita jadi bisa saling bertukar pengalaman…Sukses terus buat maki ya! aku kangen depok iki, mbok sekali2 kirimono fotone depok ngono lho…secara rencana pulkam sik suwe…hehehe…

  17. July 30, 2009 at 1:28 am

    boleh nambahin dikit gak yul…..
    misal mereka bilang di bakery ini harganya gak segitu kok, kok disini mahal sih…OK gpp…karena kelebihan dari harga kita adalah customer bisa dengan bebas nunjuk design..alias mau design seperti apa asal keluar ajah dari mulut mereka..pasti bebas kalao dengan kita….kalau di bakery..yah itu-itu ajah khan bentuk dan design yang bisa mereka beli hehehe…gak customised gitu loh…

  18. July 30, 2009 at 2:30 am

    bu guru bu guru.. terima kasih pelajarannya yaks buuu… baru mo semangat utk seriusin bakulin kueeh.. kudu pede sama harga yaks..

  19. July 30, 2009 at 4:06 am

    nop :
    “mba.. koment-nya 1 lg ajah..
    nanti dapat payung cantik sama kaos gambar Kintan dari Maki..
    gyahahahaaa..”

    wahahaha maki…akyu dapet payung cantik n kaos kintan duonnkk…kan uda nambah atu lage comment nya…

    kabuuurrrrrr….. (takutdilemparsendalsamamaki.com) ;P

  20. yunita
    July 30, 2009 at 8:53 am

    @Mimi Allegra:
    maunya juga tega ngasih harga yg pantas
    tapi lebih sering ga tega…abis kenal orangnya sih :))
    faktor kenalan berpengaruh dalam pricing😛

  21. July 30, 2009 at 1:16 pm

    Oh iya, soal harga yang lebih miring atau bahkan gratis untuk saudara atau teman…

    Biasanya sih temen2 yang paham bahwa kita yang sudah berjualan kue dengan serius (ada harga yang kita tentukan dsb), mereka juga akan menghargai kita kok, gak selamanya minta tester gratis terus atau minta harga miring terus, hehehe, justru harusnya mereka menghargai usaha berjualan kita dengan berusaha membeli dengan harga normal, itu artinya menSUPPORT kita sebagai teman, toh akhirnya kita pasti jual dengan harga diskon, itu ya rejekinya mereka, tapi diskon itu yang menentukan ya kita, penjualnya, tanpa paksaan🙂 kecuali kalo kita bikin kue hanya buat hobi, nggak jualan…

    Pernah ada temen yang rajin bawa tester ke kantornya, tapi bingung kok temen2nya nggak ada yang pesen, padahal kuenya enak, kok mintanya tester gratisan terus? lha temen2 yang kayak gitu perlu disindir juga sekali2
    : “beli dong, kan gue jualan, bahan2nya beli, bikinnya capek, ntar kalo usaha gue udah maju pasti lo gue kasih gratisan, makanya bantuin supaya usaha gue maju dengan beli… kalo gratis mulu kapan gue bisa beli mixer yang canggih…” :p misalnya…

    Trus juga, nanti gimana kalo pelanggan terbesar kita adalah teman terdekat atau saudara misalnya? Gimana ngasih harganya? mau ngasih harga normal gak enak, padahal kalo harganya gak segitu kita rugi? jangan sampai jadi bumerang… harga miring boleh banget tapi jangan sampai diem2 kita rugi, gimana2 tujuan dari jualan itu adalah untuk mendapatkan keuntungan… 🙂 kecuali memang tujuannya buat ngasih atau membantu teman/saudara…

  22. nop
    July 30, 2009 at 2:23 pm

    bener..

    *sebage org yg barusan dapet gretongan :D*

  23. July 30, 2009 at 11:41 pm

    nambahin 1 bole mak??
    rencanaku kedepan kayak gini
    1 customerku rajin banget pesen kue ke aku, sebulan bisa ampe 2-3 kali pesen kueh, dan itu kueh yang menurut aku muuahhal untuk kantongku. Nah, bulan sept doi ultah, rencanaku mo kasi bde cake buat dia, tentu aja surprise cake. Mungkin ini juga salah satu rasa terimakasih ke customer yang setia ma kita.

    yah, anggap aja, beli 10 gratis 1. setuju ga??

  24. munthab *wink wink*
    July 31, 2009 at 7:20 am

    cucoookkk…
    maki nih memang pinter.
    meski patokan yg sama mungkin ga berlaku buat yang jualan pecel *pake motor colongan*

    lha koook?
    hahahahaha!

  25. Anonymous
    July 31, 2009 at 9:38 am

    para former bakul kue..mo nanya dong..
    kl yg pesan gak nyebut budget..trus udah kita tanya juga n dia bilangnya terserah aja hiasannya apa..apa kita musti maksa dia untuk ngasih budget..? atau kita cuek aja bikinin sesuka kita trus charge dia dgn harga sesuai dgn yg kita mau..yg tentunya gak ngasal ya..maksudnya gak ngasal gitu deh ksh harganya..? trus ternyata kl sdh jadi ternyata dibilang mahal piyeee..??

  26. Lanny
    July 31, 2009 at 9:39 am

    maaf..lupa nulis nama..
    saya yg nanya diatas itu loh..

  27. yuli-kds
    August 1, 2009 at 2:43 pm

    Pernah ada temen yang rajin bawa tester ke kantornya, tapi bingung kok temen2nya nggak ada yang pesen, padahal kuenya enak, kok mintanya tester gratisan terus? lha temen2 yang kayak gitu perlu disindir juga sekali2
    : “beli dong, kan gue jualan, bahan2nya beli, bikinnya capek, ntar kalo usaha gue udah maju pasti lo gue kasih gratisan, makanya bantuin supaya usaha gue maju dengan beli… kalo gratis mulu kapan gue bisa beli mixer yang canggih…” :p misalnya…

    Iyaaaa Yull…setujuuu!! ^ ^

  28. yuli-kds
    August 1, 2009 at 2:47 pm

    tau ga Yul, aku buka harga 150rebon buat kue 20cm bulet, full fondant, pake figure babi2 gt, diomong mahal, temennya ada yg jual black forest harga 20rb doang. buset gak iso ngmg wes, org sini taune sing gd, murah >..<

  29. August 2, 2009 at 1:20 pm

    mbak thanks ya tulisannya bikin aq gak drop lagi…… secara aq barusan merintis usaha rumahan jualan cake…… kemaren2 aq ditanya harga dan aq dah berusaha ngitung dengan keuntungan yang gak banyak secara aq masih belajar. eh malah dikatain “mbak2 kuemu khok lebih mahal dari toko roti langgananku seh mbak, la iku wis punya nama lha sampeyan???” dan nangis2 lah aq.

    ya yang pasti aq harus belajar banyak, thanks ya mbak tulisannya worted banget bwt aq

  30. August 2, 2009 at 11:26 pm

    @ yunita
    iya mba, kadang kalo tuk sodara emang suka dikasi harga spesial karna kitanya ga enak kalo mahal hehe…tapi ada juga sodara yang gamau kalo gitu, maunya disamain aja sama harga pasar.. jadi biasanya suka aku kasi bonus kue gitu..

    mungkin bisa kaya mba liza yah, dia kasih surprised cake ke temennya karna sering pesen – jadinya kan makin mengikat hati si customer biar makin klepek-klepek sama kueh qta hihihi…🙂

    @ maki :
    “Biasanya sih temen2 yang paham bahwa kita yang sudah berjualan kue dengan serius (ada harga yang kita tentukan dsb), mereka juga akan menghargai kita kok, gak selamanya minta tester gratis terus atau minta harga miring terus, hehehe, justru harusnya mereka menghargai usaha berjualan kita dengan berusaha membeli dengan harga normal, itu artinya menSUPPORT kita sebagai teman, toh akhirnya kita pasti jual dengan harga diskon, itu ya rejekinya mereka, tapi diskon itu yang menentukan ya kita, penjualnya, tanpa paksaan”

    ember, setuju, mak, emang qta juga pada akhirnya kasi diskon tapi khan based on rela rela n rela… (oraisodipekso.com)

  31. August 3, 2009 at 2:52 am

    @Yuli : yo kuwi nasibmu Yul, wakakaka… kidding…

    Saya sendiri sih nggak bakat promosi ke orang-orang bahwa kue saya uenak, buagus, wah nggak bisa deh… Aku lebih suka kalo orang menilai sendiri… Kalo untuk pembeli yang sudah repeat order berkali-kali mungkin karena mereka udah tau rasanya seperti apa, trus karakter saya dalam bikin hiasan juga kayak apa jadinya mereka balik lagi untuk pesen… Kalo pembeli yang baru pertama kali, saya juga mempersilahkan mereka untuk menyampaikan ke saya puas/tidak puas atas kuenya.

    Karenaaa… Soal rasa itu relatif, mungkin orang A akan bilang kue kita enak, orang B belum tentu, namanya juga selera, lidah yang dipake juga beda… Soal dekorasi kue juga gitu, ada yang bilang kue ku hiasannya meriah, ada yang bilang terlalu ruwet banyak tempelan2nya, wakakkaa, ya itu juga selera toh, ada yang bilang simple is the best, ada yang bilang rame is the best…

    Jadi kesimpulannya, terkenal atau tidak terkenalnya usaha kita (to mbak Ikha) itu juga buat aku nggak ada pengaruhnya. Misalnya, aku lebih seneng makan soto di kaki 5 depan rumah daripada soto di mall X karena yang kaki 5 rasanya lebih enaaak, walopun lebih mahal yang di kaki 5 itu misalnya, who cares terkenal atau tidak terkenal, yang kita makan rasanya kan, bukan terkenalnya…😀

  32. August 3, 2009 at 4:36 pm

    @ Lanny: kalo ada customer dateng trus minta dibuatin kue yang hiasannya terserah asal bagus (ya iyalah masak terserah entah itu hasilnya jelek atau bagus, hihihi, pastinya maksudnya terserah itu supaya kita bebas berkreasi dan hasil akhirnya haruslah bagus menurut beliau), itu bagiku sama aja kalo kita dateng ke restoran trus bilang sama chefnya “bikinin saya menu andalanmu dong, terserah deh apa”, nah itu kan artinya chefnya disuruh bikin makanan yang paling enak kan…

    Harusnya siih, budget disebutkan, aku sendiri kalo ybs tidak menyebutkan budget, aku yang akan kasih range, bahwa harga maksimal bisa sekian, kalau sudah oke, ya baru aku buatin, nanti jatuhnya harga bisa yang maksimal itu, bisa kurang dari itu. Kalo udah dibikinin kue dan yang pesen bilang kok mahal, harusnya kalo sudah minta dibuatkan yang paling bagus, harusnya dia nggak lagi sensitif soal harga…🙂 Jadi saranku jangan diambil order kalau harganya belum jelas, kecuali memang calon pembeli udah tau range harga kita… Pastikan harga udah sepaham dulu…

  33. August 3, 2009 at 4:42 pm

    @ Mbak Liza : ide bagus, hehehehe, kayak makan pizza 25x gratis 1x, hihihih…. Tapinya ya mahal buat kita belum tentu mahal juga buat si customer itu, mungkin kita pikir dia udah pesen kue seharga TV 50inch saking banyaknya, tapi buat dia bagaikan jajan bakso + es campur aja, hahahaha… Ya boleh dong ngasih compliment buat customer setia, boleh banget, sangat dianjurkan itu😀

  34. hanneke
    August 5, 2009 at 11:27 am

    Really appreciated dg web nya
    saya seneng baca comment2 gambar di webnya, kisah2 dibalik pembuatannya, itu jadi masukan berarti buat kita. two thumbs up for your effort!
    mo nanya dong, kalo mo belajar decorationnya bisa di Maki ga?? kursus gitu … emang pastinya sibuk banget tapi mungkin bisa kasih masukan dimana sy bisa belajar???
    Tks a lot
    God bless you

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: